Masjid Tempat Jodoh


Masjid Tempat Jodoh
Oleh: Taufik Noor
 

Mungkin semua pada bingung kenapa saya menulis artikel ini, saya menulis artikel ini karena memang betul kalau masjid itu, rumah-Nya itu, tempat ibadah ummat muslim itu adalah tempat rezeki, tempat jodoh, dan tempat semua kebaikan yang ingin kita capai.

Bersyukurlah para-para jomblo yang sering ke masjid karena masjid bukan hanya tempat beribadah tapi masjid juga bisa menjadi tempat jodoh kita. Eits tapi jangan sampai ke masjid hanya untuk mencari jodoh.

Jangan sampai hanya karena ada ta’lim di masjid malah sering kesana, duduk paling belakang dan pura-pura pegal sampai noleh ke tempat barisan perempuan dibelakang. Wah modus baru ini namanya.😁 Kalau seperti ini sih tidak akan dapat karena lihatnya juga malah sekilas saja.😄

Nah pasti pada bertanya-bertanya “ Terus bagaimana caranya ke masjid bisa dapat jodoh?”, oke akan saya jawab ya jadi jangan pindah artikel dulu, hehe.😉

Cara agar dapat jodoh di masjid ya seperti kisah sahabat Nabi Muhammad yaitu si Julaibib, dimana si Julaibib ini orangnya sederhana dan juga biasa saja. Bahkan orang-orang pada zaman itu, wanita-wanita pada zaman itu banyak yang langsung menolak jika si Julaibib datang ke rumah mereka untuk melamarnya atau anaknya, bahkan belum sempat melamar karena baru datang saja, baru mengetuk pintu saja mereka langsung menolak Julaibib seperti mereka tahu akan kedatangan Julaibib untuk berbuat apa, iya mungkin karena tidak ada yang menarik dari Julaibib. Karena tidak punya harta, nasabnya biasa saja, serta fisiknya juga biasa.

Sangking tidak ada yang mau sama Julaibib, tidak ada yang mau jadi istrinya Julaibib, dan tidak ada orang tua yang mau jadi mertuanya Julaibib. Bahkan seorang wanita budakpun menolak Julaibib apa lagi seorang wanita yang merdeka.

Dan pada akhirnya karena Julaibib berkali-kali ditolak oleh semua orang, Julaibib jadi sedih dan baliklah Julaibib ke masjid sambil merenung mikirin nasibnya.

Ketika Julaibib merenung datang lah Nabi Muhammad, ketika itu Nabi langsung berada didekat Julaibib sambil berkata “Julaibib ada apa?”. Julaibib pun menjawab “Ya Rasulullah, kenapa tidak ada perempuan yang mau untuk saya jadikan istri? Tapi tidak apa-apa, kira-kira Rasulullah kalau saya tidak di dunia di akhirat dapat tidak ya?”, Julaibib sudah mulai putus asa karena nasibnya.

Setelah itu Rasulullah menjawab “Tenang saja Julaibib kamu akan dikasih Allah kekasih di dunia dan di akhirat. Yang baik, yang cantik di dunia dan akhirat”. Julaibib pun kaget atas jawaban Rasulullah “Bagaimana caranya ya Rasulullah?” kemudian Rasulullah berkata “Coba kamu pergi ke kepala suku fulan bin fulan, bilang kedia Rasulullah melamar putri kalian untuk nikah sama kamu.” 

Setelah itu Julaibib pergi ke rumah itu “Assalamualaikum” kata Julaibib, “Waalaikumussalam, eh  Julaibib ada apa? apa ada yang bisa saya bantu buat Rasulullah?” jawab kepala suku itu yang sudah mengenal Julaibib. Julaibib pun berkata “Tidak ada, ada titipan salam dari Rasulullah” lalu kepala suku pun menjawab “Oh iya, ‘Alaika Wa’Alaissalam, ada apa Julaibib?”. “Jadi gini?” malu-malu Julaibib ingin berkata, lalu Julaibib meneruskan apa yang ingin dikatakannya “Pak, ini ada titipan dari Rasulullah”, kepala suku itupun bertanya “Titipan apa?”. “Rasulullah ingin melamar anak bapak” jawab Julaibib. Kepala suku pun kaget seperti terlihat kepala suku itu sangat senang dan dia pun berkata “Oh gitu?”, Julaibib yang belum selesai berbicara pun meneruskan kalimatnya “Untuk saya”.

Dikarenakan kalimat Julaibib ini ada jeda', kepala suku yang mengira lamaran itu untuk Rasulullah pun kaget, karena dia tak mengira kalau itu untuk Julaibib. Mau menolak tidak nyaman mau menerima pun juga tidak mungkin, akhirnya dia pun meminta ijin kepada Julaibib “Oh gitu ya? Apa ini beneran dari Rasulullah, ya sudah kalau begitu kamu tunggu ya saya mau musyawarah dulu dengan istri saya”. Kepala suku itu akhirnya pergi ke belakang meninggalkan Julabib seorang diri.

Ketika di belakang kepala suku tadi memanggil istrinya “Kesini, musibah-musibah”  istrinya menjawab “Ada apa?”. “Wah, ternyata ada Julaibib di depan” kata kepala suku itu, lalu dia meneruskan “Rasulullah suruh kita menikahkan putri kita dengan Julaibib”. Istrinya pun kaget “Haah, La Hawla Wala Quwwata Illa Billah”. Suaminya yang kepala suku itupun berbicara “Bagaimana ya cara menolaknya yang baik agar Rasulullah tidak tersinggung?.” 

Karena terlalu sibuk bermusyawarah akhirnya putrinya pun keluar menemui kedua orang tuanya. “Ibu, ayah ada apa?” kata putrinya. “Ini ada Julaibib di depan” kata orang tuanya itu, “Oh iya, memang kenapa?” lanjut putrinya. Ayahnya pun berkata “Dia datang membawa pesan Rasulullah, bahwa Rasulullah memesankan supaya engkau dinikahkan dengan Julaibib”, dia kemudian mengatakan “Oh gitu? Terus kenapa?”, ayahnya menjawab “Ayah sama ibu lagi musyawarah, lagi berpikir bagaimana caranya…”. Putrinya pun berbicara “Ma’adzallah, wahai ayah dan ibu, apakah ayah dan ibu masih bermusyawarah tentang perintah Allah dan Rasul,bukannya kalau Allah dan Rasul sudah memerintahkan kita harus bilang Sami’na Wa Athona”, ayahnya pun kaget dan sedikit meyakinkan putinya itu “Ini Julaibib bukan Rasulullah, mungkin kamu salah dengar”, putinya membalas “Sami’na Wa Athona, walaupun Julaibib wahai ayah, wahai ibu. Tidak boleh kita membantah perintah Allah dan Rasul, aku terima wahai ayah dan mudah-mudahan Allah memberikan kebaikan dalam urusan ini.” 

Kurang sholeha apa coba? Budak saja tidak mau sama Julaibib, sekarang perempuan cantik, berpendidikan, orang kaya, bahkan anak kepala suku menerima dengan Sami’na Wa Athona, kalau sudah diskak sama kalimat ini pasti sudah susah ayah dan ibunya membantah.

Jadi, akhirnya menikahlah Julaibib dengan perempuan tersebut dengan mahar yang sangat dimudahkan dan itu berkat doanya Julaibib didalam masjid.

Terus apa ada masalah dengan masjid?, apalagi jika modal nikah kurang jangankan perempuan cantik yang biasa-biasa banget. Ternyata Allah akan memberikan kekita untuk dunia dan akhirat.

InsyaaAllah siapa yang mengharapkan "true love dan end last love" tempatnya di masjid, apalagi buat perempuan yang memang tidak bisa mencari melainkan menunggu maka tunggulah di masjid. Maksudnya banyak-banyak meminta kepada Allah, semoga kita semua akan mendapatkan kekasih dunia dan akhirat yang dimana dia lebih mencintai Allah dan Rasul dibandingkan yang lain, Aamiin Ya Rabbi.


Samarinda, 06 Agustus 2017



 Dari kisah si Julaibib

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terima Kasih Ibu

Harapan

Hijrahku