Ketika Di Rumah-Nya
Ketika Di Rumah-Nya
Oleh: Taufik Noor
Siang itu
aku duduk bersandar di bangunan yang indah dan sangat diagungkan, ya bangunan itu
adalah masjid rumah-Nya, aku bersandar dengan menikmati alunan ayat-ayat cinta-Nya
yang dibawakan oleh beberapa orang di dalam masjid itu. Mata ini sampai
terpejam karena tak tahan menahan indahnya alunan suara merdunya “Sungguh merdu nan indah suara ini”
pikirku.
Hanya
sebentar aku terpejam aku dikejutkan oleh dua orang anak kecil yang sedang
bercakap di sampingku, hati ini sempat tertawa mendengar percakapan mereka, ya
percakapan itu mengenai masa depan mereka sendiri, masih kuingat apa yang
mereka ucapkan dan sungguh percakapan itu membuatku tertawa, ya bagaimana tidak
karena ucapan mereka akupun teringat dengan masa kecilku.
“Ki kamu nanti besar mau jadi apa? Aku mau
jadi pilot loh” kata wildan.
“Kalau aku nanti mau jadi guru sama pilot Wil,
gurunya pagi kalau pilotnya malam hari” jawab Kiki.
“Loh mana boleh Ki kalau pilot itu sibuk pas kamu dapat kerjanya pagi bagaimana? mending kita pilot aja” jawab Wildan
sambil mengeraskan suaranya.
“Tapi aku maunya jadi pilot yang ke Mekkah Wil
kalau aku enggak bisa jadi guru, tapi kalau malam aku enggak mau kerja Wil kan
waktunya istirahat Wil” ucap Kiki sambil bergaya.
“Sama Ki aku kalau malam juga malas kerja,
hheh” jawab Wildan sampai tertawa.
Lalu
anak-anak itu pergi sambil berlari untuk meninggalkanku yang terpikirkan
kelucuan mereka, sontak pikiran ini menjadi teringat mimpi-mimpiku dulu. Aah
akupun dulu juga sama seperti mereka yang mempunyai mimpi besar untuk menjadi
Imam Masjidil Haram di Mekkah sana, ya tapi Allah telah berkehendak lain untuk masa
depanku ini, semoga mimpi anak-anak itu menjadi kenyataan dan mereka dapat
membahagiakan kedua orangtuanya atas mimpi yang mereka capai kelak.
Baru aku
ingin memejamkan mata mereka kembali berlari dan mengahampiriku. Aku yang ingin
terlelap dibangunkan oleh mereka berdua dan merekapun memulai percakapan untuk
mengajakku berbicara.
“Om aku boleh tanya engga?” kata Kiki.
“hmmm” balasku sambil tersenyum dan
menganggukkan kepala.
“Om kenapa kok ada Surga dan Neraka sih om
kalau kita mati nanti?” katanya.
“Kiki Surga itu untuk orang baik kalau Neraka
itu untuk orang yang suka berbuat jahat, iya kan om?” jawab Wildan yang malah
menjawab pertanyaan Kiki duluan dibandingkan aku.
“Iya betul kata dia” jawabku polos
dengan menunjuk ke arah Wildan.
“Tuh kan betul, jadi Neraka itu buat orang
yang jahat sama anak-anak yang nakal” jawab Wildan yang sambil bergaya
seperti dia tahu itu semua.
“Terima
kasih om” ucap mereka serentak sambil berlari keluar meninggalkanku yang tersenyum kearah mereka.
Aku yang
tadi ingin terlelap bahkan merasa mempunyai tenaga lagi karena mereka. Ya
mereka adalah anak-anak penerus zaman ini, zaman yang dimana anak-anak yang
malah terjebak ke dalam zona bahaya yaitu dengan pergaulan bebas yang akan membuat
masa depan mereka hancur.
Aku masih
terasa sangat gelisah akan nasib anak-anak sekarang ini, tidak sedikit ketika
aku melangkah ke luar sana melihat mereka yang malah berbuat tidak baik yang
dimana masih saja ada anak-anak yang merokok, menggunakan narkoba, mencuri
serta bergandengan tangan dengan pasangannya. Bahkan yang sangat kugelisahkan
adalah mereka masih dibawah umur seperti masih duduk di bangku sekolah dasar yang
pikiran mereka masih sangatlah labil, mungkin mereka tidak tahu kalau itu
kedepannya akan membuat mereka sengsara.
Naudzubillah, semoga zaman ini tidak
dipenuhi dengan anak-anak seperti itu melainkan akan dipenuhi dengan anak-anak
seperti mereka berdua tadi yang masih mempunyai mimpi besar serta ilmu agama
yang akan membuat mereka selamat di masa mendatang. Aamiin Ya Rabbi.
Samarinda, 05 Agustus 2017

Bagus bangett... Ini seperti renungan ya...
BalasHapushehe iya ka, terima kasih ka
HapusKeren..
BalasHapusSuka ikut event lomba menulis online?
gk ka, ini aja saya msh pemula, hehe
Hapus