Ketakutan....
Ketakutan....
Oleh: Taufik Noor
Pada Minggu Malam 30/07/17, malam hari ini seperti biasa aku duduk diam membisu menemani sang kesunyian. Pada malam ini mulutku seperti terkunci rapat bagaikan bibir teroleskan lem yang begitu kuat. Aku duduk terpaku tak dapat pindah ke tempat yang ingin aku jangkau seperti ada yang melarang tubuh untuk berdiri dari tempat duduk ini.
Pada malam ini, aku seperti berbeda dari malam-malam lainnya.
Tiba-tiba mataku tertutup rapat karena tak kuat menahan katup yang sangatlah berat. Sayu-sayu masih terdengar suara angin malam yang melilit kesunyian. Perlahan aku buka mata ini, aku hanyut dalam kesunyian sehingga tak dapat lagi aku bicara sepatah kata.
Kulihat disekitar begitu gelap, tak ada cahaya setitik pun yang menemani pada gelapnya itu. Dingin, dinginnya itu pun menerpa tubuh ini bagaikan tubuh terasa membeku dan tak dapat digerakkan. Malam ini terasa berbeda dari malam yang lainnya. Aku takut, takut ada hal yang tak terduga.
Kesunyian pun semakin menerpa sehingga melengkapi malam yang begitu berbeda ini. Pikiran pun melayang entah kemana, aku seperti kosong bagaikan tak ada jiwa.
Hati ini seperti diguncang oleh ombak ketakutan yang begitu besar. Mata ini pun masih susah untuk terbuka sepenuhnya.
Otot-otot dalam tubuh pun seperti kaku tak bisa digerakkan.
Aku semakin takut, aku ingin kegelapan dan kesunyian ini secepatnya berakhir sehingga tak akan lagi mengusik malam.
Aku masih berpikir, berpikir kenapa hal ini terjadi. Kenapa malam ini begitu berat untuk aku lintasi. Kenapa disekitar tubuh ini begitu gelap dan sunyi sehingga setitik cahaya dan suara enggan untuk menemani.
Terlintas pikiran yang sangat mengusik ketenangan, pikiran itu "Apakah ini sudah kiamat?". Aku takut jika itu yang terjadi.
Tetapi jiwa yang kosong ini pun tak akan aku biarkan. Aku coba hati ini untuk melawan, melawan rasa takut yang begitu mencengkam, melawan diri agar berani melintasi kegelapan. Tiba-tiba.............
"Mati lampu, aduh gelapnya" suara teman kos menyadarkanku dari mata yang sayu ini.
"Aah ternyata hanya mati lampu" pikirku. Kini jiwa yang kosong terisi kembali dan akhirnya mata ini mampu melawan katup yang begitu menyiksa diri. Kesunyian terganti dengan kicauan burung dan suara teman-teman kos serta kegelapan pun terganti dengan sinar mentari pagi.
Samarinda, 31 Juli 2017
Oleh: Taufik Noor
Pada Minggu Malam 30/07/17, malam hari ini seperti biasa aku duduk diam membisu menemani sang kesunyian. Pada malam ini mulutku seperti terkunci rapat bagaikan bibir teroleskan lem yang begitu kuat. Aku duduk terpaku tak dapat pindah ke tempat yang ingin aku jangkau seperti ada yang melarang tubuh untuk berdiri dari tempat duduk ini.
Pada malam ini, aku seperti berbeda dari malam-malam lainnya.
Tiba-tiba mataku tertutup rapat karena tak kuat menahan katup yang sangatlah berat. Sayu-sayu masih terdengar suara angin malam yang melilit kesunyian. Perlahan aku buka mata ini, aku hanyut dalam kesunyian sehingga tak dapat lagi aku bicara sepatah kata.
Kulihat disekitar begitu gelap, tak ada cahaya setitik pun yang menemani pada gelapnya itu. Dingin, dinginnya itu pun menerpa tubuh ini bagaikan tubuh terasa membeku dan tak dapat digerakkan. Malam ini terasa berbeda dari malam yang lainnya. Aku takut, takut ada hal yang tak terduga.
Kesunyian pun semakin menerpa sehingga melengkapi malam yang begitu berbeda ini. Pikiran pun melayang entah kemana, aku seperti kosong bagaikan tak ada jiwa.
Hati ini seperti diguncang oleh ombak ketakutan yang begitu besar. Mata ini pun masih susah untuk terbuka sepenuhnya.
Otot-otot dalam tubuh pun seperti kaku tak bisa digerakkan.
Aku semakin takut, aku ingin kegelapan dan kesunyian ini secepatnya berakhir sehingga tak akan lagi mengusik malam.
Aku masih berpikir, berpikir kenapa hal ini terjadi. Kenapa malam ini begitu berat untuk aku lintasi. Kenapa disekitar tubuh ini begitu gelap dan sunyi sehingga setitik cahaya dan suara enggan untuk menemani.
Terlintas pikiran yang sangat mengusik ketenangan, pikiran itu "Apakah ini sudah kiamat?". Aku takut jika itu yang terjadi.
Tetapi jiwa yang kosong ini pun tak akan aku biarkan. Aku coba hati ini untuk melawan, melawan rasa takut yang begitu mencengkam, melawan diri agar berani melintasi kegelapan. Tiba-tiba.............
"Mati lampu, aduh gelapnya" suara teman kos menyadarkanku dari mata yang sayu ini.
"Aah ternyata hanya mati lampu" pikirku. Kini jiwa yang kosong terisi kembali dan akhirnya mata ini mampu melawan katup yang begitu menyiksa diri. Kesunyian terganti dengan kicauan burung dan suara teman-teman kos serta kegelapan pun terganti dengan sinar mentari pagi.
Samarinda, 31 Juli 2017

Komentar
Posting Komentar